Kamis, 13 Maret 2014

Anak-anak GPG 1

Merenungi Perkembangan Anak-anak GPG1 (khusus anak laki-laki)

Masih ingat jaman kita dahulu, dimana saat menjelang adzan Maghrib tiba, anak-anak (baik anak laki-laki, maupun anak perempuan) telah bersiap untuk melaksanakan sholat Maghrib yang disambung dengan mengaji, di mesjid ataupun di musholla. Lengkap dengan sarung dan kopiahnya.
Dari situ bisa kita lihat mesjid, musholla ramai dengan anak-anak yang sholat dan mengaji. Tetapi belakangan ini, tradisi itu sudah hampir hilang, dimana saat menjelang Maghrib, ada anak-anak yang masih bermain, tapi ada juga yang sudah siap untuk melaksanakan sholat Maghrib (walau saat ini jarang sekali kita lihat anak-anak menyandang sarung mereka dan kopiah). Tapi Alhamdulillah bagi anak-anak yang mengaji sudah tergantikan dengan seragam ngaji mereka (ada putih-hijau dan ada seragam biru-biru), walau tetap tanpa sarung dan kopiah. Semoga mereka bangga dan terbiasa memakai busana Muslim, dan menjadi kewajiban mengenakan busana Muslimah. Jangan kalah dengan Pemda DKI, yang mewajibkan pegawainya mengenakan busana daerah ditiap minggunya.

Kalau kita bicara anak usia SMP dan SLA, keberadaan mereka di Mesjid masih kalah jumlah dengan anak-anak usia SD, bahkan TK dan Play Group. Dimana mereka saat menjelang sholat Maghrib...?
Mungkin masih dalam perjalanan pulang (entah dari sekolah atau main), mungkin masih asyik dengan group “Bikers”-nya, atau pula masih asyik dengan HP mereka (FB-an, BBM-an, Whatsapp-an, dll). Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, motor bagus-bagus dengan suara knalpot yang halus, mereka ubah dengan suara yang menggelegar, istilah mereka “knalpot racing”, suara klakson yang sudah sesuai dengan peruntukkannya untuk sepeda motor, mereka ganti dengan suara klakson mobil, bahkan mereka beri tambahan dengan sirine ambulance.

Subhanallah, ini menjadi tanggung jawab kita semua, agar generasi kita, khususnya anak-anak GPG, menjadi generasi yang baik, yang kelak akan menggantikan kita.

Semoga apa yang telah diusahakan oleh Bapak-bapak  (tanpa menyebut nama), untuk mengumpulkan mereka dan membimbingnya, dapat terus dilanjutkan, walau kadang banyak hambatan.

Sekedar merenung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar