Semoga kasus ini tidak terjadi dilingkungan perumahan kita, tidak terjadi di lingkungan sekolah anak-anak kita dan tidak terjadi lagi diseluruh bumi nusantara.
Semoga kita para orangtua dapat memantau aktivitas bermain anak-anak kita di perumahan, dan semoga kita memiliki rasa bahwa anak tetangga adalah anak kita juga, yang berhak kita lindungi dan kita bimbing, agar anak-anak kita terhindar dari tindak kekerasan, dan mengutamakan budi pekerti luhur saat mereka bermain dan berinter aksi, bukan anak-anak yang selalu kita hardik ketika mereka melakukan kesalahan. Marilah kita rangkul mereka, jangan bersikap dan bertutur kata kasar terhadap mereka.
Sekedar mengingatkan kembali, apakah kita sudah memberi anak-anak kita hand phone pintar, yang didalamnya disematkan fitur kamera dan video, dan akses internet yang mudah didapat, maka kalau jawabannya "sudah", segeralah periksa hp anak kita tersebut, jangan sampai ada berita bahwa : anak si A diperlihatkan photo tabu oleh anak si B lewat hp yang dia miliki.
Alhasil setelah saya googling, maka berita tersebut sudah menjadi perhatian banyak orang, dari orang biasa yang tidak ada daya upaya, sampai mendapat perhatian para petinggi negeri, tingkat Kemendikbud, tingkat DPRD dan DPR, berikut beberapa tanggapan akan kasus tersebut :
Fahri Hamzah Terbelalak Lihat Video Aksi 'Brutal' Anak SD di Bukittinggi
"Saya nonton videonya, saya dan istri kaget dan terbelalak bisa ada vandalisme dan premanisme pada level anak-anak SD," kata Fahri di Gedung DPR, Jakarta, Senin (12/10/2014).
Fahri mengatakan, kasus tersebut membuatnya berpikir lebih dalam soal pendidikan pada anak, bukan saja masalah di sekolah tapi ada masalah yang kompleks yang harus diselesaikan bersama. Soal agama, budaya masyarakat, pendidikan keluarga, dan lainnya.
"Kultur mengaji sore hari ke surau dalam novel berlatar belakang minang nggak kuat lagi, sehingga tiba-tiba anak secara kolektif sekecil itu dianiayai tanpa rasa iba sambil divideo dan tidak ada yang melerai," paparnya.
Fahri mengaku sudah menghubungi Gubernur Sumatera Barat Irwan yang juga politisi PKS agar kasus ini diberi perhatian khusus.
"Saya sms pak Irwan, di samping Pemda Bukittinggi melakukan tindakan, saya usulkan Pemprov juga lakukan tindakan serius. Paling tidak secara teknis Pemda Bukittinggi," ucap Fahri.
Senin, 13 Oktober 2014 , 18:45:00
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh. Foto: Dok JPNN.com
| BERITA TERKAIT |
JAKARTA - Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh memastikan akan memberikan sanksi
tegas terhadap kepala sekolah terkait beredarnya video bullying murid
SD di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Nuh meminta Dinas Pendidikan Bukit
Tinggi terkait pemberian sanksi tersebut.
"Tanggung jawab pendidikan itu ada di
kabupaten/kota, karena yang mengangkat guru adalah kabupaten/kota. Oleh
karena itu kami akan memberi sanksi," kata Nuh di kompleks Istana
Negara, Jakarta, Senin (13/10).
Nuh mengaku sangat prihatin atas
beredarnya video bullying murid SD di Bukit Tinggi tersebut. Untuk
mencegah hal tersebut tidak terulang kembali, dia meminta kepada jajaran
dinas pendidikan di kabupaten/kota untuk mengawasi perilaku siswanya.
"Itu realistis yang kita hadapi. Saya juga bersedih atas kejadian tersebut, namun kami tetap bertanggung jawab," tegas Nuh.
Meski memberi sanksi pada pihak sekolah,
Nuh memastikan anak-anak yang berada dalam video tersebut tidak akan
dikenakan sanksi, karena masih di bawah umur.
"Kami juga akan memberi tahu kepada orang tua murid yang berada dalam video itu," ujar Nuh.
Seperti diberitakan, video penganiyaan
terhadap seorang murid SD beredar di YouTube. Dalam video berdurasi 1
menit 52 detik itu, seorang murid terlihat dihajar lima teman
sekelasnya.
Pertama, seorang murid laki-laki
menendangnya sebanyak tiga kali. Kemudian, disusul teman perempuannya
dengan tendangan kanan yang mengarah ke pinggang korban. Lalu dengan
melompat, teman lainnya yang mengenakan topi SD menendang korban, dan
dua teman lainnya laki-laki menyusul meninju serta menendang hingga
korban tersudut di ruang kelas.
Mereka silih berganti menghajar murid SD
yang malang itu. Dalam rekaman tersebut ada suara yang mengatakan,
"taruih-taruih", artinya terus-terus. Kemudian kalimat lainnya yang
mengatakan, "lambuiklah", yang berarti hajar.(flo/jpnn)
Tanggapan DPRD Bukittinggi Terkait Video Kekerasan Antar Murid SD
Video murid SD dihajar teman-temannya beredar di Youtube. (Sumber: Bukittinggi Info/Youtube)
“Kami akan panggil Dinas Pendidikan, dan pihak kepolisian agar kejadian ini di telusuri, ini meresahkan masyarakat. Jika itu anak kita tentu pendidikan (Sekolah) bukan tempat yang aman,” ujar salah seorang anggota DPRD Bukittinggi Fauzan Haviz saat dihubungi ranahberita.com Minggu (12/10/2014) pagi.
Fauzan berasumsi, bahwa kejadian ini bukanlah yang pertama, karena dalam rekaman itu salah satu anak SD tersebut sadar terhadap kamera. Ia juga mempertanyakan pendidikan moral yang ada di Kota Bukittinggi, karena saat tindak kekerasan ini terjadi teman-teman sekelas mereka yang lain membiarkannya. Dan menurutnya pengawasan dari Dinas Pendidikan sangat minim, hingga kejadian seperti ini mecuat kepermukaan.
“Selama ini kita hanya mengejar nilai akhir sekolah, dan prestasi saja, tapi pendidikan Moral, Etika dan Agama sudah kurang, pengawasan dari Dinas Pendidikan patut dipertanyakan,” lanjutnya.
Politisi dari Partai PAN ini mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan oleh anak di bawah umur tersebut, ia menyayangkan rendahnya pendidikan moral di sekolah itu.
“Tidak terbayangkan jika itu adalah anak saya, anak anda, dan anak kita, yang menjadi korban di sekolahnya,” tambah Lulusan Georgetown University Washington DC, USA ini.
Dalam video yang berdurasi 1 menit 52 detik itu terlihat seorang siswi ditendang dan dipukuli oleh teman-teman laki-laki dan perempuannya. Video itu beredar di Youtube. Hingga Minggu (12/10/2014) pagi, video tersebut sudah diupload dari beberapa akun Youtube. (Muslim/Ed5)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar